Selasa, 15 November 2011

AKHWAT GAUL


“ Siapa sih yang gak kenal Zy, putri bungsu Tuan Guru* Akhyar yang punya pesantren mentereng di Lombok barat itu kan ? “
       “ Yap..!!! tepat banget… “ jawab Erna membenarkan kalimat Ummah.
       “  Emangnya kenapa ? “
       “Dia sekarang sekolah disini lho…”
Ummah yang mendengar, hanya ber-O panjang.
      “ Kok Cuma O sih.?! “ Erna jengkel.
      “ Memangnya kenapa ?. siapa saja boleh kan sekolah di kampus ini. Toh bukan milik nenekmu kan.?!. jadi kenapa kita ambil pusing. Malah bagus dong, anak Tuan Guru ternama mau bersekolah di tempat sederhana ini. “
     “ Masalahnya bukan sesederhana itu… aku tau betul siapa Zy. Karena aku alumni pesantrennya. Jadi aku hafal betul  bagaimana karakternya. Takutnya nanti kehadirannya di pesantren salafi ini akan berakibat buruk, dan mencoreng nama baik pesantren. Percaya deh…”
    “ Hussst… kita tidak boleh bersu’uzzan pada orang. Bisa saja, dia kesini untuk berhijrah dari masa lalunya…! “ komentar Ummah, yang dibalas cibiran Erna yang masih gak yakin.

*W!Y@*
    Pagi yang indah, mentari pagi menyapu tiap sudut bumi yang masih basah oleh bening embun pagi. Langkah ribuan pasang kaki thullab dan thalibat yang setiap hari menuntut serta mengkaji ilmu agama di kampus salafi untuk menjaga kemurnian ajaran islam yang sekarang telah banyak terkontaminasi oleh faham-faham sesat, membekas sangat jelas di tengah lapangan pesantren yang di tumbuhi banyak rerumputan, garisnya yang nyata seperti membelah lapangan menjadi dua bagian.
            Di sekumpulan thalibat baru yang berjalan di tengah lapangan nampak Hipzy kamila, yang biasa di sapa Zy berjala seperti keong, Ia ribet berjalan mengenakan kain batik panjang dan baju kurung putih selutut seragam untuk banat di kampus salafi ini kali pertama baginya. Dan Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
            “ dasar sekolah kuno… orang sudah memakai jeans ini masih memakai sarung batik . gimana jalannya kalau kaki gue di lilit seperti mumi begini, huh…. Cape dech..!!!” Zy menceracau sendiri. Kalau boleh rasanya ingin di angkatnya kain batik yang melilit kakinya itu tinggi-tinggi hingga Ia bisa melangkah selebar-lebarnya bila perlu berlari biar cepat sampai di kampus.
            “Zy … duluan ya…! “ sapa sebagian dari mereka yang mengenalnya
            “Yok… i…” balas Zy mengangkat tangan kirinya karena tangan kanan terbebani kitab –kitab setebal kamus. Dalam diamnya Zy menghitung jumlah thalibat yang telah mendahului langkahnya.
            “ bisa-bisa gue telat ne,… heran .. yang lain kok gak keliatan  ribet make sarung batiknya ya…? Hebat juga “ Zy melihat ke kiri , kanan dan belakangnya meneliti kondisi.
            “ ah, aman…” bisiknya kegirangan , dengan sigap tangan kirinya mengambil alih beban kitab dari tangan kanan dan tangan kanan menyingsing kain batiknya hingga sebetis. Di percepatnya langkah yang tadinya lambat, malah terlihat seperti setengah berlari.
            Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara tawa banin kompakan, karena melihat celana jeans Zy menjuntai keluar. Pipi Zy memerah menahan malu dan dengan perlahan menurunkan kain batik yang disinsingkan tadi untuk menutupi jeansnya yang kelihatan.
            “ Bokap gue jahat …!! Masa anak perawannya yang paling cantik diasingkan ke tempat seperti ini. Sekolah sama perempuan doang, kostnya juga  di tempat perempuan, bisa-bisa gue jadi perawan tua di sini, iiih…ngeri…!!” Zy menutup wajah dengan kitab yang di pegangnya.
*WIY@*
             “ Dek …kalau perempuan duduknya nyelepek*, bukan duduk bersila. Lengan bajunya jangan digulung gak enak diliatnya “. Tegur kakak tingkat yang duduk disebelahnya ketika sedang mengaji kitab Fiqih di masjid. Zy hanya tersenyum dan say tengkiyu, pada kakak itu.
             Zy mematung di depan kitab kuning yang dibukanya, ia sama sekali tidak mengerti maksud tulisan dalam kitab gundul itu. Ia hanya menatapnya hampa dan senyam-senyum sendiri tak mengerti.
Di saat teman- temannya khusyuk menulis dan menyalin apa yang disampaikan syaikhnya, Zy pun khusyuk dengan MP3 Acnes monica diplasdiscnya dan chating dengan teman-teman lamanya.
      Saking nikmatnya Zy tidak sadar dengan gerakan tangan dan kepalanya yang manggut- manggut, membuat beberapa banat yang didekatnya merasa aneh. Malah ada yang menganggapnya gila.
           Zy tidak peduli dengan tatapan aneh beberapa pasang mata yang sedari tadi memperhatikannya.
           “ EGP…Emang Gue Peduli    ? iih sory deh….” Zy mengibaskan tangan kiirinya, pertanda acuhnya datang.
           “ ukhti…boleh pinjam spidolnya ? ” tanya Kartini lembut. Zy tidak mendengarnya. Kepala dan tangannya masih goyang. Kartini heran, namun dicobanya sekali lagi.
Zy yang merasa dipanggil membuka airphone di telinganya, dan bisa mendengarkan suara lembut Kartini.
           “ Maaf… saya Zy, bukan crazy bukan juga ukhti. “ Zy menjulurkan tangan kenalan. Kartini menyambut uluran tangan Zy  menahan geli.
          “ Saya… Kartini. “ tersenyum.
          “ Pasti kamu putri Indonesia, Harum ya…namanya ? “ Zy terlihat serius
         “ Bukan. Saya Kartini putri bapak Kartono. Yang harum namanya kan ibu kita Kartini. Aku nona Kartini. “ Kartini membalas Zy dengan banyolannya. Kontan Zy tertawa, membuat thalibat yang lain merasa targanggu.
         “ Aku kira kamu titisan dewi bulan yang lembut en gak suka ngocol. Ternyata salah ya…kamu anak baru kan ?” Zy SKSD ( Sok Kenal Sok Dekat )
         “ Sama sepertimu …” jawab Kartini tersenyum akrab.
*W!Y@*

         Suasana di ruang tingkat satu banat sangat gaduh. Rupanya thalibat judud sedang rebutan tempat duduk semua ingin mendapat tempat di shaf terdepan. Berbeda dengan Zy, ia lebih memilih menikmati MP3nya dari pada rebutan tempat duduk di kelas barunya.
    “ Assalamu’alaikum… Zy, gak nyari tempat duduk? “ sapa Kartini  yang mendapati Zy di pojokkan.
    “ Eh.. Hai..” Zy mengangkat sebelah tangannya mengajak Kartini duduk. Kartini tersenyum menyambutnya. Ditawarkannya sebelah airphonenya pada Kartini.
    “ Ada murattalnya gak ? “ sedikit lebih kencang di dekat telinga Zy untuk mengimbangi keributan kelas.
    “ Apa ? “  teriak Zy, airphone masih di telinga. Lalu ia membukanya.
    “ Ada murattalnya gak ? “ ulang Kartini.
    Zy menggeleng.
    “ Nasyid ? “ Tanya Kartini lagi.
    “ Cuma lagu-lagu hitsnya Acnes, Ben jovy, Link kin park, Bretney, Anggun, bla…bla..” cerita Zy antusias. “ Mau denger..? “ Zy menyerahkan Plash Discnya pada kartini. Kartini pun mencoba.
    “ Kok semuanya lagu-lagu perusak hati sih…?  Gak ada sejuk-sejuknya didengar..” komentar Kartini polos.
    “ Aahh.. Kar, kamu payah. Ini keren..!!!. Masak aku denger marawis, kasidah.. kuno.”
    “ Kita masuk yuk..!! Bentar lagi belajar “ Kartini mengalihkan pembicaraan.
    “ Mau duduk dimana ?. “ tanya Zy yang lengannya  ditarik Kartini, dan hampir saja terjatuh karena masih ribet dengan kain batik yang melilit kakinya.
    Ketika memasuki kelas, Zy heran melihat beberapa ekor mata yang melototinya. Semua bagian tubuhnya ia perhatikan dengan seksama.
     “Tidak ada yang aneh”.batinnya.
Beberapa menit dirasakannya tangan kartini yang  menarik kain batiknya, karena celana jeansnya menjuntai keluar. Dan kembali Kartini menurunkan gulungan lengan bajunya. Zy diam, lalu cengengesan.
    “ Heran.. baru gitu aja udah pada bengong. Gak pernah liat tren santri kota kali ya…makanya gak gaul. Dasar orang-orang kuper. Makan kitab kuning terus. Pantesan mereka tua menguning.” Gerutu Zy.
    Akhirnya Zy menempati duduk di pojok belakang. Tempat yang paling aman untuk ngerumpi, tidur en dengerin musik. Banyaknya thalibat dalam satu kelas yang lebih dari ratusan menutup kemunngkinan syaikh untuk memperhatikannya.namun bagi Kartini, tempat itu merugikan dirinya. Karena tidak bisa mendengar suara dan  penjelasan syaikh dengan jelas.

*W!Y@*

     Ketika salah satu Syaikh yang masih muda lulusan Timur tengah itu mengajar di kelasnya, Zy malah sibuk dengan Brietneynya. Tak secuil pun pelajaran yang di terngkan masuk ke telinganya, sampai ia pun tertidur lelap.
Dan tiba-tiba ia mendengar namanya disebut-sebut.
   “ Zy..Zy.. bangun … syaikh nyari kamu “ Kartini mengguncang tubuh Zy keras.
   “  Apa.. aku.. “ Zy menunjuk hidungnya sendiri. “ Imposible..ah..” Zy cuek dan melanjutkan tidurnya.
   “ Mana Hifzy Kamila.. “  suara Syaikh tampan itu sekali lagi. Membuat Zy tersentak kaget. “ Darimana dia tau nama gue “ Zy menceracau sambil mengucek matanya yang memerah.
    “ Ya.. disini..” Zy mengacungkan telunjuknya tinggi-tinggi.
Gulungan lengan bajunya terlihat. Melihat keanehan Zy, thalibat yang lain tertawa.
   “ Tuh kan.. aku bilang juga apa…lihat saja kelakuannya itu,seperti tidak punya sopan santun pada guru. Sekolah pake jeans, pake kets lagi. Lengan baju digulung, jilbab bukannya dibiarkan menjuntai kebawah untuk menutup dada malah di ikat ke belakang.  Mana ada sekolah salafi seperti itu. Lama-lama dia bisa mencoreng nama baik pesantren kita ini. “ Cela Erna dan mencibir jengkel.
    “ Proses Hijrah seseorang itu tidak semudah membalik telapak tangan bukan ? jadi, butuh waktu lama. Kita do’akan saja. “ terang Ummah bijak.
   Tepat saat  itu juga, Zy melintas di depan mereka seraya tersenyum ramah.
    “ Assalamu’alaikum.. “ sapa kartini dari belakang Zy yang sibuk memencet tombol Hpnya sms-an
   “ Hai..sini duduk..” balas Zy.
   “ Jawab salam hukumnya wajib lho..” sindir Kartini.
   “ Wa’alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh … puas..”
    Kartini tersenyum.
   “ Tadi ustaz ngapain manggil kamu ke idharah* ? “  tanya Zy melihat air muka Zy berubah kusut.
    “ kena tegor ya…” tebak Kartini.
    “ EsTe A lu..” semprot Zy tepat di wajah cute Kartini.
    “ Aku juga mau kalau dipanggil sama ustaz ganteng itu..” Sempat-sempatnya Kartini ngayal. 
    “ Iiih… kalem-kalem, ternyata ganjen juga nih anak. “ Zy mencubit hidung Kartini agar segera tersadar dari hayalnya.
    “ Yang tadi itu, Bonyok gue yang nelpon. Mereka minta tolong supaya Amid untuk menasehatiku,agar mau ikut program tahfiz. Di ma’had ini. Menurut kamu gimana.? “ Zy memelas.
    “ Wah.. bagus dong..kita bisa tetap samaan. Aku juga rencananya ikut tahfiz “ sambut Kartini antusias.
    “ Emang aku punya tampang jadi seorang Hafizah* gitcu..”  Zy mengerak-gerakkan wajah ovalnya mirip iklan sabun wajah.
    “ Ku kira Bonyokku terlalu memaksa, aku jadi tertekan. Kalau aku nolak, aku bakalan dipingit. Dan lebih seramnya lagi aku bakalan di nikahi dengan lelaki pilihan mereka. Bonyok ku itu benar-benar kolot. Inikan bukan zamannya Siti Nurbaya lagi. “ Zy merasa lega, melepaskan bebannya ke pundak sahabat barunya.
Kartini tersenyum penuh makna.
    “ Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tentu dengan tanda kutip, yang terbaik maksudnya disini tentu bukan yang terbaik menurut si anak itu sendiri. Tetapi yang terbaik menurut Allah. Karena anak merupaka amanah Allah yang kelak harus mereka pertanggung jawabkan di hadapan-Nya. Tentu orang tua kita tidak mau kelak saat pertanggung jawabannya akan memberikan laporan buruk menurut hukum Allah. Kamu tentu lebih faham masalah seperti ini. “ jelas Kartini panjang lebar. Membuat Zy terharu.
     “ Aku merasa bersyukur telah dipertemukan dirimu Kartono..” Zy mengedip-ngedipkan bulu matanya yang lentik, membuat Kartini jengkel.

*W!Y@*

     Idaratul Ma’had terlihat ramai. Rupanya hari ini Masyaikh sedang menggelar rapat  dalam rangka ujian nispu sanah. Semua kelas terlihat ribut , karena sebagian jam pelajaran tidak terisi. Dengan kondisi yang tidak jauh berbeda bisa telihat dari komplek thullab.mereka berkeliaran di sekitar halamn masjid. Ada juga yang beri’tikaf dan ada juga yang membaca kitab atau sekedar tilawah. Namun tuidak begitu dengan para thalibat yang belajar di dalam ruangan. Mereka lebih asyik berdiam diri di dalam kelas dan berdiskusi apa saja. Bisa jadi ngerumpi.
     Tak tersa enam bulan masa belajar telah di lewati . ujian nispu sanah sebentar lagi. Untuk mengisi kekosongn waktu, SEMA MDQH ( Senat Mahasiswa Ma’had Darul Qur’an wal Hadist ) biasanya akan mengisinya dengan muzakarah yang biasanya dipimpin oleh salah seorang Thullab senior, atau biasa disebut dengan nuqaba’ .
     Sepertinya para nuqaba’ sudah mulai memimpin muzakarah di masing-masing kelas. Begitu juga dengan kelas Satu -Be Banat. Kelas dimana Zy belajar. Masuk seorang nuqaba’ yang tingginya semampai bekulit gelap. Dia masuk ke kelasnya Zy membawa kitab Sharef . Zy yang sejak pandangan pertama sudah tidah suka, terlihat ogah-ogahan mendengar materi yang disampaikan nuqaba’ berkulit gelap itu. Diambilnya Al-Qur’an digital yang mulai sering dibawanya sejak ikutan program tahfiz. Untuk muraja’ah hafalannya. Karena duduknya di pojok Zy merasa aman.
     Melihat Zy yang lebih konsen dengan kegiatannya sendiri. Si nuqaba’ merasa di remehkan dan tersinggung. Entah berapa kali dia melotot ke arah Zy, namun Zy tidak melihatnya.
     “ Yang di belakang pojok timur..” suara nuqaba’ itu lantang. Kontan semua yang duduk di pojok timur melihat ke arahnya begitu juga dengan Zy.
    “ Anti…” tunjuknya kearah Zy dengan nada emosi.
    “ Apa fi’il amr-nya خرج uji si nuqaba’ yang merasa penjelasannya tidak di perhatikan Zy.
    “ Yang ditanya siapa…?” tanya Zy tanpa merasa berdosa.
    “ Anti.. “ jawab nuqaba’ itu masih emosi.
    “ Aku..” tanya Zy ragu, menunjuk hidungnya.
    “ Iya..anti..” Emosi si nuqaba’ hampir meledak kalau tidak ingat ia sedang berada di ruangan banat.
    “ Kenalkan.. aku. Hifzy Kamila. Biasa dipanggil Zy. Bukan Anti… “ Zy sok nyeleb.
    “ Iya aku dengar. Bisa jawab tidak..” dengan suara yang di tekan.
    Zy tersenyum penuh misteri… “ Soalnya tadi apa ya…” ulang Zy.
Kini yang jengkel bukan saja si nuqaba’, teman-temannya pun ikut geregetan menyaksikan kekonyolan Zy  yang dirasa sudah kelewatan. Meski dalam keadaan emosi, dijawabnya juga pertanyaan Zy sekali lagi.
    “ Apa fi’il Amr-nya خرج ”
 اخرج     "    Ukhruuj…!!! “  Dengan tegas Zy menjawabnya dan menunjuk ke arah pintu kelas.
    Merasa tersinggung dan tidak terima dengan perlakuan Zy padanya. Dengan malu bercampur emosi, nuqaba’ itu keluar melalui puntu yang di tuinjuk Zy. Thalibat yang satu kelas dengan Zy  semua mengutuk perbuatan Zy. Ada yang santai-santai aja.
    “ tega banget sih Zy, nyuruh kak Udin keluar. Gak sopan tau..Bagaimanapun dia walik guru kita, jadi kita harus menghormatinya seperti guru kita sendiri..” Kartini mengingatkan sahabatnya.
    “ Iya..iya deh aku ngaku salah.. Eh.. siapa tadi namanya..” kejar Zy penasaran.
    “ Udin…” jawab Kartini singkat dan jelas.
    “ U- Di-N…” eja Zy geli. “ Udah- Dekil- Norak lagi…ha..ha.. “
    “ Upsss… Astagfirullah … “ Zy buru-buru menutup mulutnya menahan tawa. Kartini hanya bisa menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang masih dalam proses hijrah. Dan berdoa tulus dalam hati.

*W!Y@*
       Tak disangka, enam bulan berada di Ma’had Darul Qur’an Wal Hadist telah banyak memberikan perubahan positif pada diri Zy. Kartini sahabat setia tetap mendampingi dan dan menyemangnati Zy dalam proses hijrahnya. Dan kini Zy mulai terbiasa mengenakan jilbab lebar seperti yang lainnya, menngenakan sarung batikpun tak sudah ahli, kets leceknya di simpan di museum pribadi, lengan baju tak digulung lagi malah Zy mulai mengenakan manset, lima pasang kaos kaki dimilikinya. Katanyanya sih buat antisipasi kalau-kalau robek atau ilang. Program tahfiz dan KBK (Kursus Baca Kitab) diikutinya. Dan hafalannya pun lumayan sudah masuk lima juz , baca kitab kuning tidak  gaguk lagi. Sangat instan memang. Karena itu semua di dukung oleh kecerdasan dan kesungguhan Zy dalam berhijrah dari masa lalunya.
      Namun yang tidak berubah dari Zy adalah tetap gaul tapi nyar’i, dan koleksi MP3nya yang tidak pernah berubah Cuma bertambahdenagn nasid-nasid populer serta murattalnya syaikh-syaikh kenamaan Timur Tengah.
     “ Satu lagi yang masih aku rahasiakan dari mu sahabatku,..” goda Zy pada Kartini yang sedang asyik membaca kitab nahwunya sembari mengerlingkan kedea matanya, membuat Kartini penasaran.
     “ Apa itu..? “ Kartini terpancing.
     “ Syaikh kita yang ganteng en cute itu, adalah…” Zy menggantungkan kalimatnya. Kartini semakin penasaran.
Zy merapatkan mulutnya tepat di telinga Kartini sebelah kanan lalu membisikkan sesuatu hingga membuat kartini pucat dan pingsan. Karena dalam diam Kartini sangat mengharapkan dan memimpikan kalau lelaki ganteng dan sholeh itu kelak bisa menjadi imam shalat dalam keluarganya. Harapan Kartini kini musnah sudah karena syaikh impiannya itu yang akan menjadi imam sekaligus pangeran hidup sahabatnya, Hifzy Ramdhani. Kartini hanya bisa berdo’a untuk sahabatnya tercinta.

*W!Y@*

ADAWIYAH HAMZAH

Tidak ada komentar:

PUTRI KECILKU

“Hanin kalau mau pipis dimana?” Di toi ..... let.... dengan ucapan cadel dan belum fasih dia menyambung kaliat toilet yang ku lafalkan. ...